INDEF : Potensi, Kinerja dan Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia
INDEF : Potensi, Kinerja dan Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia
| Tangkapan Layar acara diskusi virtual bersama Ekonom Perempuan INDEF (09/10) | Peneliti INDEF| Eisha Maghfiruha Rachbini |
Jakarta, 09 Oktober 2021- Acara webinar mengenang 100 hari dan launching buku pemikiran Dr. Enny Sri Hartati, yang digelar oleh Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), pada Sabtu (09/10). Salah satu rangkaian dalam acara tersebut juga disertai dengan diskusi bersama Ekonom Perempuan INDEF yang membahas mengenai pemulihan ekonomi melalui daya saing dan hilirisasi industri. Seperti yang kita ketahui bahwa pandemi covid-19 ini memberikan tekanan yang sangat luar biasa terjadi sektor industri. dimana dikhawatirkan akan terjadinya deindustrialisasi, sehingga banyak hal yang harus diperbaiki, agar industri pengolahan semakin berkembang.
Dalam diskusi ini, salah seorang Peneliti INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini, dalam pemaparannya menyampaikan perihal bagaimana meningkatkan daya saing industri, sehingga meningkatkan ekspor. Pertama, mengenai daya saing industri, investasi dan kinerja perdagangan Indonesia. Menindaklanjuti dari pemikiran Dr. Enny Sri Hartati, dimana menurut Eisha bahwa, Dr. Enny sering kali menyoroti tentang daya saing produk dalam negeri yang terus menurun, kemudian juga bagaimana produk dalam negeri yang tersisih oleh produk-produk impor, dan juga bagaimana caranya agar daya saing meningkatkan melalui investasi, sehingga bisa meningkatkan kinerja perdagangan Indonesia.
“Dari pemikiran beliau tadi, menjadi suatu inspirasi bagi saya, untuk materi diskusi hari ini, secara global competitiveness perekonomian Indonesia ini, mengalami penurunan dari tahun 2017 dimana Indonesia berada pada urutan ke 37, turun menjadi rangking ke-45 di tahun 2018, kemudian turun lagi menjadi rangking ke-50 di tahun 2019, menurut world economic forum. bagaimana dengan daya saing industri manufaktur Indonesia ternyata jika kita lihat bahwa nilai tambah dari manufaktur terhadap sektor perekonomian adalah 20% di tahun 2019, dan mengalami penurunan ditahun 2020 karena memang ada pandemi. Kalau kita lihat sektor manufaktur kita disini 44% nya adalah bergerak di bidang resource space, sedangkan untuk yang bergerak di bidang teknologi masih sedikit. Jadi memang industri kita masih berbasis komoditas sumber daya alam, karena negara kita memiliki kekayaan alam yang berlimpah,” jelas Eisha dalam diskusi virtual (09/10).
Peneliti INDEF ini, juga menekankan bahwa potensi industri manufaktur dan tantangan ke depan yaitu, harus dilakukannya hilirisasi manufaktur berbasis komoditas sehingga dapat mendorong ekspor dan memperbaiki naraca perdagangan, kemudian juga untuk tantangan ke depan, dibutuhkan investasi yang besar untuk mendukung peningkatan nilai tambah komoditas ini sangatlah diperlukan, serta kebijakan dan regulasi yang mendukung percepatan investasi agar dapat melakukan hilirisasi di sektor manufaktur.
Dengan demikian, Eisha menarik kesimpulan bahwa daya saing industri manufaktur perlu ditingkatkan untuk mendorong kinerja neraca perdagangan, terutama ekspor. Selain itu, potensi industri manufaktur untuk dapat meningkatkan ekspor tersebut harus terus ditingkatkan melalui hilirisasi sektor industri pengolahan berbasis komoditas, upaya ini juga dibutuhkan investasi yang mendorong hilirisasi.
Komentar
Posting Komentar